Perbandingan Populasi Cucak Kutilang pada Pagi dan Sore Hari di Wilayah Fakultas Kehutanan dan LSI Institut Pertanian Bogor
Rifqi R. Hidayatullah (E34100090), Engga Swari (E34100054), Winahyu Adyanandaputri (E34100060), Achmad Fauzi (E34100132)
Kelompok 16
Asisten :
Tutia Rahmi
Dosen :
Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra, MS
Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, M.Sc.F
Dr. Ir. Yeni A. Mulyani, M.Sc
Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor
2011
ABSTRAK
Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) adalah burung yang menyukai tipe habitat pada areal terbuka, terutama vegetasi pepohonan. Populasi Cucak kutilang di Institut Pertanian Bogor sangat melimpah yang hampir tersebar di semua tempat tak terkeculai di Fakultas kehutanan dan sekitar danau LSI. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di sekitar fakultas kehutanan serta LSI pada pagi dan sore hari dapat diketahui bahwa burung Cucak kutilang ditemukan paling banyak di LSI pada pagi hari. Wilayah LSI termasuk wilayah perairan, dimana wilayah tersebut kurang sesuai bagi habitat biasa burung Cucak kutilang. Akan tetapi disekitar LSI juga terdapat hutan sekunder yang merupakan habitat yang sesuai bagi Cucak Kutilang. Burung Cucak kutilang juga lebih banyak ditemukan di LSI karena wilayah LSI lebih jarang ditemui manusia daripada wilayah Fahutan yang sering dilalui manusia yang melakukan berbagai aktivitas termasuk pembangunan.
Kata kunci: Cucak kutilang, habitat, Populasi.
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Burung merupakan salah satu kelompok terbesar dari hewan bertulang belakang (Vertebrata) yang jumlahnya diperkirakan ada 8.600 jenis dan tersebar di seluruh dunia. Mereka mampu menempati setiap tipe habitat dari khatulistiwa hingga kutub (MacKinnon 1998). Cucak Kutilang atau Kutilang adalah sejenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae. Orang Sunda menyebutnya cangkurileung, orang Jawa menamainya ketilang atau genthilang, bunyi suaranya yang khas, sementara nama ilmiahnya adalah Pycnonotus aurigaster; mengacu pada bulu-bulu di sekitar pantatnya yang berwarna jingga.
Habitat adalah suatu kawasan yang terdiri dari berbagai komponen, baik fisik maupun biotik yang merupakan satu kesatuan dan dipergunakan sebagai tempat hidup serta berkembangbiak satwaliar (Alikodra 1990). Faktor yang menentukan keberadaan burung antara lain adalah ketersediaan makanan, tempat untuk istirahat, kawin, main, bersarang, bertengger, dan berlindung. Kemampuan suatu wilayah dalam menampung burung ditentukan oleh luasan, komposisi, dan struktur vegetasi, banyak tipe ekosistem dan bentuk habitat. Burung umumnya akan bertahan hidup disuatu tempat apabila terpenuhi suatu tuntutan hidupnya antara lain habitat yang mendukung dan aman dari gangguan (Irwanto 2009). Kelengkapan komponen habitat mempengaruhi banyaknya jenis burung di suatu (Mulyani 1985).
Beberapa penelitian mengenai keanekaragaman burung di IPB menunjukkan bahwa jenis cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) termasuk burung yang dominan, dalam arti sering dijumpai dalam jumlah yang cukup besar. Diperkirakan cucak kutilang adalah jenis burung yang paling dominan di seluruh tipe vegetasi di Kampus IPB Darmaga. Di alam cucak kutilang dapat memanfaatkan semua lapisan strata vegetasi (Mackinon 1998). Potensi perjumpaan cucak kutilang di IPB yang dapat dijumpai pada pagi hari minimal 164 individu. Sedangkan potensi perjumpaan cucak kutilang yang dapat dijumpai pada sore hari minimal 25 individu.
Berdasarkan hasil data penemuan cucak kutilang diatas maka akan dilakukan pengamatan populasi Cucak Kutilang pada pagi dan sore hari yang khususnya dilakukan di Fakultas Kehutanan IPB dan danau LSI IPB.
1.2. Tujuan
Tujuan dilakukan pengamatan yaitu untuk mengetahui perbandingan populasi burung Cucak Kutilang pada pagi dan sore hari di wilayah Fakultas Kehutanan dan LSI Institut Pertanian Bogor.
BAB II. METODE PENELITIAN
2.1. Lokasi dan Waktu
Lokasi pengamatan yaitu di Fakultas Kehutanan dan danau LSI IPB. Pengamatan dilakukan selama enam hari selama dua minggu. Masing-masing pengamatan dilakukan pada pagi dan sore hari. Waktu pengamatan pada pagi hari dimulai pada pukul 06.00 WIB – 07.30 WIB dan pada sore hari dimulai pada pukul 16.00 WIB - 17. 30.
2.2. Alat
Alat yang digunakan selama pengamatan adalah binokuler, alat tulis, buku panduan lapangan (Field Guide) “Burung – Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan” (Mac Kinnon dan Philips 1998), dan jam tangan.
2.3. Jenis Data
a. Data Primer
Menghitung jumlah populasi burung pada pagi dan sore hari yang akan dilakukan di Fakultas Kehutanan IPB dan danau LSI IPB.
b. Data Sekunder
Data Skunder di dapatkan dari studi pustaka.
2.4. Metode Pengambilan Data
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode jelajah. metode ini dilakukan di Fahutan dimulai dari Gedung Utama (GU) tepatnya di lapangan parkir yang berdekatan dengan Arboretum. Kemudian dilanjutkan di depan Balairung yang diseberangnya ada pohon Krey payung. Setelah dari Balirung pengamatan dilanjutkan lagi di sekitar Audit Fahutan dan departemen Manajemen Hutan. Sedangkan di wilayah sekitar danau LSI pengamatan dilakukan di titik Semak dan Sengon yang tidak terlalu tinggi, Sengon yang tinggi dan pohon yang mati yang tak jauh dari kolam FPIK dan LSI.
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1 Populasi Cucak Kutilang di Fahutan pagi dan sore hari
Jumlah Cucak kutilang yang ditemukan di wilayah fahutan pada waktu pagi dan sore hari adalah sebagai berikut:
Tabel 1 Populasi cucak kutilang di Fahutan pagi dan sore hari.
| Waktu Hari ke- | Pagi | Sore |
| 1 | 9 | 8 |
| 2 | 7 | 5 |
| 3 | 9 | 7 |
| 4 | 11 | 9 |
| 5 | 22 | 6 |
| 6 | 22 | 3 |
| 7 | 15 | 7 |
| Jumlah | 95 | 45 |
| Rata-rata | 14 | 7 |
Tabel 1.Populasi Cucak Kutilang di Fahutan pada pagi dan sore hari

Gambar 1.Populasi Cucak Kutilang di Fahutan pada pagi dan sore hari
3.1.2 Polulasi Cucak Kutilang di Danau LSI pagi dan sore hari
Jumlah Cucak kutilang yang ditemukan di wilayah LSI pada waktu pagi dan sore hari adalah sebagai berikut:
Tabel 2 Populasi Cucak Kutilang di sekitar wilayah LSI
| Waktu Hari ke- | Pagi | Sore |
| 1 | 19 | 16 |
| 2 | 14 | 5 |
| 3 | 9 | - |
| 4 | 11 | 9 |
| 5 | 19 | 9 |
| 6 | 13 | - |
| 7 | 15 | 5 |
| Jumlah | 100 | 44 |
| Rata-rata | 14 | 6 |

Gambar 2. Populasi Cucak Kutilang di LSI pada pagi dan sore hari
3.1.3 Polulasi Cucak Kutilang di Danau LSI dan Fahutan
Perbandingan populasi cucak kutilang di danau LSI dan Fahutan:

3.2 Pembahasan
Pengamatan dilakukan di sekitar danau LSI dan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Pada lokasi pengamatan di LSI terdapat danau buatan sehingga dapat dikatakan sebagai habitat perairan. Habitat perairan, dalam hal ini adalah lahan basah yang memiliki beberapa manfaat dan nilai utama misalnya untuk kegiatan penelitian dan pendidikan. Sedangkan di lokasi kedua yaitu di Fakultas Kehutanan merupakan daratan kering yang disekitarnya banyak di tumbuhi pepohonan dan juga terdapat arboretum yaitu hutan buatan yang tujuannya untuk pendidikan. Beberapa lokasi yang digunakan sebagai tempat pengamatan diantaranya adalah Gedung Utama Fakultas Kehutanan, Balairung Fakultas Kehutanan, dan Auditorium Fakultas Kehutanan.

Gambar 1. Lokasi pengamatan di sekitar wilayah Fahutan

Gambar 2. Lokasi pengamatan di sekitar wilayah LSI
Pada hari pertama di sekitar danau LSI dari pukul 06.00 sampai 07.30 dijumpai sekitar 19 Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang berkelompok di satu titik yaitu di sekitar pohon Sengon yang tidak terlalu tinggi dan cenderung lebih bercabang. Hal ini juga selaras karena Cucak Kutilang biasanya berkelompok, baik ketika mencari makanan ataupun bertengger. Pada sore harinya sulit menemukan Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) pada 30 menit pertama di tempat yang sama yaitu pada pohon Sengon yang tidak terlalu tinggi sampai akhirnya ditemukan kelompok Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) pada sebuah pohon kering yang cukup tinggi. Pada pagi kedua jumlah Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) turun dari jumlah pagi pertama yaitu hanya ada 14 Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan pada pohon yang berbeda dari pagi hari pertama, saat itu sulit menemui Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) karena gerimis. Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) tidak di temukan karena beberapa faktor cuaca yang mendung dan angin yang cukup besar serta hujan.
Pengamatan sekitar danau LSI terdiri dari semak dan pohon-pohon tinggi dan di dominasi oleh pohon Sengon yang tinggi, akibatnya sedikit sulit untuk melakukan pengamatan. Selama pengamatan, Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) cenderung di temui di semak-semak dan rumput dan pohon sengon yang tidak terlalu tinggi dan terbuka sehingga peraktikan tidak sulit untuk menghitung Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) dan kemungkinan terjadi penghitungan ganda lebih besar terjadi, dan hal ini selaras karena menurut Mackinnon (1998) Cucak kutilang aktif dalam kelompok yang aktif dan ribut. Cucak kutilang juga nampak lebih menyukai pohon terbuka dan bersemak di pinggir hutan. Pada pohon sengon ruang tajuk yang paling banyak digunakan sebagai tempat bertengger cucak kutilang adalah ruang tajuk B.

Gambar 3. Burung Kutilang di Wilayah Fahutan
Pada pengamatan disekitar Fahutan pada pagi hari Burung Cucak Kutilang banyak ditemukan sedang hinggap di atap gedung atau terbang dari pohon ke pohon lain, ada juga burung yang ditemukan berada di halaman depan GU sedang berkumpul sambil mematuk-matukan paruhnya di aspal halaman GU. Pada hari pertama ditemukan 9 ekor burung Cucak Kutilang, paling banyak ditemukan yaitu di depan Balairung Fahutan beberapa diantaranya seperti sedang bermain-main di pohon Mangga dan juga ada sepasang Cucak Kutilang sedang bertengger di pohon Krey Payung. Pada sore harinya hanya ditemukan 8 ekor. Berbeda dengan hari pertama, di hari kedua jumlah Cucak Kutilang yang ditemukan lebih sedikit hal ini dikarenakan cuaca yang gerimis dan angin yang cukup kencang. Dari beberapa titik tempat kami pengamatan di Fahutan hanya 1-3 Cucak Kutilang saja yang bisa ditemukan. Sama seperti hari pertama, jumlah Cucak Kutilang yang ditemukan di sore hari lebih sedikit jumlahnya dengan pengamatan di pagi hari.
Pengamatan di hari ketiga jumlah Cucak Kutilang yang ditemukan sama seperti pada hari pertama sore harinya, jumlah yang ditemukan tidak lebih dari yang ditemukan di sore hari. Sedangkan pada pengamatan hari keempat sampai dengan hari terakhir jumlah burung Cucak Kutilang yang ditemukan semakin banyak khususnya yang dilihat di depan GU. Cucak Kutilang tersebut terbang berasal dari Arboretum. Di hari keempat pada saat sore hari jumlah Cucak Kutilang lebih banyak dari sore-sore biasanya yaitu 9 ekor sedangkan di hari kelima sampai hari terakhir, jumlahnya sangat sedikit dan sangat menurun dari hari-hari pengamatan sore hari sebelumnya.
Dari Gambar 2, terlihat bahwa pada waktu pagi hari dimasing-masing habitat mempunyai jenis yang jumlah burung terbanyak dibandingkan dengan waktu sore hari, hal ini diduga karena pada pagi hari, jenis-jenis burung diurnal sedang memulai aktifitas hariannya, terutama mencari makan. Sedangkan pada sore hari terdapat kecenderungan beberapa jenis burung sedang istirahat atau melakukan aktifitas lainnya seperti bertengger atau berdiam diri.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di sekitar fakultas kehutanan serta LSI pada pagi dan sore hari dapat diketahui bahwa burung Cucak kutilang ditemukan paling banyak di LSI pada pagi hari. Wilayah LSI termasuk wilayah perairan, dimana wilayah tersebut kurang sesuai bagi habitat biasa burung Cucak kutilang. Akan tetapi disekitar LSI juga terdapat hutan sekunder. Biasanya jumlah jenis burung akan meningkat sesuai dengan luas habitat atau ukuran suatu habitat. Di sekitar LSI mempunyai frekuensi relatif tinggi, karena terdapat beberapa pohon serta semak yang digunakan oleh Cucak kutilang, contohnya pohon sengon. Ciri khas untuk mengenali burung kutilang adalah jambul yang unik dan suara yang khas sehingga mudah dikenali dan burung ini juga menyukai pepohonan terbuka di hutan sekunder. Burung Cucak kutilang juga lebih banyak ditemukan di LSI. Hal ini di duga karena wilayah LSI lebih jarang ditemui manusia daripada wilayah Fahutan yang sering dilalui manusia yang melakukan berbagai aktivitas termasuk pembangunan.
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, dijumpai 140 burung Cucak kutilang di wilayah sekitar Fahutan dan 144 burung di LSI. Terdapat perbedaan jumlah burung antar waktu pagi dan sore di masing-masing habitat dan Burung Cucak kutilang lebih sering ditemukan pada pagi hari dari pada sore hari. Pada pagi hari total burung yang ditemukan adalah 195, sedangkan pada sore hari adalah 89. Kebanyakan burung ditemukan dalam keadaan sedang mencari makan, sekedar terbang atau sedang hinggap. Penyebab diwilayah LSI ditemukan lebih banyak Cucak kutilang walaupun dekat dengan wilayah perairan adalah karena habitatnya dianggap lebih jauh dari aktivitas manusia dan terdapat pohon-pohon yang cukup tinggi yang sesuai bagi burung Cucak Kutilang.
4.2 Saran
Populasi Cucak Kutilang di Institut Pertanian Bogor sangat melimpah maka dari itu Cucak Kutilang sebaiknya di masukan dalam paket wisata Eduecotourisme, dan diadakannya penangkaran di sekitar kampus agar warga tidak menangkap Cucak Kutilang di Kampus Institut Pertanian Bogor. Selain itu karena banyaknya pembangunan yang sedang dilaksanakan di Insitut Pertanian Bogor maka akan mengakibatkan populasi Cucak Kutilang berkurang. Oleh karena itu di sarankan kepada Rektor Insitut Pertanian Bogor agar mengurangi kegiatan pembangunanya guna mengantisipasi agar habitat Burung Cucak Kutilang tidak hilang dan populasinya juga tidak berkurang.
BAB V. DAFTAR PUSTAKA
Agus Dkk.2007. Studi Pemanfaatan Beberapa Jenis Pohon oleh Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) Sebagai Tempat Bertengger untuk Penentuan Lokasi Wisata Birdwatching di Kampus IPB Dramaga. Bogor: IPB Press .
Alikodra HS. 1990. Pengelolaan Satwaliar Jilid I. Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset Antar Universitas Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor.
Kurnia I. 2003. Studi Keanekaragaman Jenis Burung untuk Pengembangan Wisata Birdwatching di Kampus IPB Darmaga. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian.
MacKinnon J., Philips K, van Balen B. 1998. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan. Bogor: Puslitbang Biologi-LIPI.
MacKinnon, J., K. Phillipps, and B. van Balen. 2000. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Bogor: LIPI dan BirdLife IP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar