BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dendrologi adalah mata kuliah inter departemen bagi mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. dimana memiliki bobot sks 3 (2-3), yang artinya, dalam satu minggu ada 2 ( dua ) jam pertemuan tatap muka atau yang disebut kelas kuliah dan 3 ( tiga ) jam untuk kelas praktikum.
Ilmu dendrologi adalah ilmu yang membahas tentang pohon, yang keanekaragaman dan jenisnya sangat banyak dan bervariasi. Di dalam kelas kuliah terdapat materi seperti penjabaran tentang sifat- sifat, taksonomi pohon, penyebaran, ekologi, serta kegunaannya. Sedangkan di kelas praktikum pembelajaran dendrologi dalam bentuk pengenalan langsung jenis tumbuhan yang telah diberikan pada waktu kuliah, mendeskripsikan suatu jenis pohon tersebut, mencari sifat pembeda antara jenis yang satu dan yang lainnya, dan mengenal berbagai macam daun pohon- pohon tersebut. Dari praktikum tersebut muncul beberapa kesulitan untuk membedakan daun- daun yang sangat banyak. Karena daun daun tersebut selain warnanya yang sama terkadang bentuk dan porosnya sama, apalagi yang dalam satu keluarga. Seperti mahoni daun besar (Swietenia macrophylla) dengan mahoni daun kecil (Swietenia mahagoni) yang pembedanya hanya ukuran daunnya. Diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam mengenal dan mendeskripsikan daun- daun tersebut. Menyadari akan pentingnya ilmu dendrologi ini, serta agar tidak terjadi kekeliruan dalam mendeskripsikan pohon- pohon tersebut, diperlukan kuliah lapang yang manfaatnya sebagai wahana menyegarkan ingatan tentang pohon-pohon yang telah di kuliahkan. Dan juga pengenalan langsung jenis pohon-pohon tersebut. Hal inilah yang melatarbelakangi diadakannya kuliah lapang dendrologi.
TUJUAN
1. Menyegarkan kembali, ingatan kita tentang kuliah dendrologi yang membahas dan mempelajari tentang pohon dan jenis- jenisnya.
2. Mengenal langsung pohon-pohon yang telah dipelajari pada saat kuliah dan dendrologi
3. Mengetahui manfaat maupun kerugian pohon-pohon tersebut
BAB II
KONDISI UMUM
SEJARAH KEBUN RAYA BOGOR
Pada tahun 18 Mei 1817, Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama s’Lands Plantentuinte Buitenzorg. Pendiriannya diawali dengan menancapkan ayunan cangkul pertama di bumi Pajajaran sebagai pertanda dibangunnya pembangunan kebun itu, yang pelaksanaannya dipimpin oleh Reinwardt sendiri, dibantu oleh James Hooper dan W. Kent (dari Kebun Botani Kew yang terkenal di Richmond, Inggris).
Sekitar 47 hektare tanah di sekitar Istana Bogor dan bekas samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani. Pada masa itu diperkirakan sekitar 900 tanaman hidup ditanam di kebun tersebut. Pada mulanya kebun raya bogor bertujuan sebagai pengoleksi tanaman tropika rendah yang beriklim dingin, tinggi permukaannya 260 m dpl, dengan curah hujan 3000-3400 mm/tahun. Berjalannya waktu kebun raya bogor bukan hanya pengoleksi tanaman tetapi sebagai lokasi penelitian yang bertaraf internasional. Jumlah tanaman yang ada di kebun raya bogorpun semakin banyak, terdiri dari 222 suku, 3423 species, dan 13,684 jenis tanaman yang ada di kebun raya bogor. Luas daerah kebon raya bogor mengalami perluasan yang mulanya 47 ha sekarang 87ha. Selain itu karena manfaat kebun raya tersebut telah di rasakan oleh masyarakat secara luas. Lahirlah cabang-cabang kebun raya bogor diantaranya, Kebun Raya Cibodas yang terletak di kabupaten cianjur berdiri pada tahun 1852, dengan lu as lahan 120 ha, dan berada diketinggian 1400 m dpl. Sehingga tanaman yang ad yaitu tanaman tropika pegunungan basah dan subtropis. Contoh lainnya Kebun Raya Purwodadi yang terletak di daerah Kabupaten Pasuruan, berdiri pada tahun 1941, luas lahannya 87ha, berada di ketinggian 250 m dpl, jenis tumbuhannya yaitu tanaman tropika daratan rendah yang kering. Kebun Raya Bedugul yang terletak di daerah Bali, berdiri pada tahun 1959, dengan luas lahannya 159,5 ha. Berada di ketinggian 1400 m dpl, jenis tumbuhannya yaitu tanaman tropika pegunungan beriklim kering. Adapun tugas serta fungsi dari kebun raya tersebut adalah :a.konservasi eksitu; b.sarana penelitian,taksonomi; c.sarana pendidikan; d. Sarana wisata ilmiah. Dan lain- lainnya
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut adalah berbagai tumbuhan yang diamati oleh praktikan:
1. Kempas (Kempasia excelsa)
Adalah famili Fabaceae. Pohon ini adalah pohon pertama yang diamati, berukuran besar dan tinggi dengan banir menyebar. Jenis pohon ini dilindungi secara lokal, sering menjadi tempat bersarang lebah madu yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Dan jika berada di tengah hutan, banir pohon dapat menjadi sarang beruang madu.
2. Asam Londo (Pithecolobium dulce)
Famili Leguminosae ini banyak dijadikan sebagai pohon peneduh, pohon ini jika dibiarkan bebas bisa tinggi menjulang dengan batang dan cabang yang hampir tak beraturan. Pohon asam londo mempunyai duri di batang cabang dan ranting, walau tidak setajam duri salak.
3. Merbau (Intsia bijuga)
Merbau adalah jenis pohon penghasil kayu keras berkualitas tinggi anggota suku Fabacecae. Secara fisik Merbau dapat memiliki diameter pohon sampai 150cm, bahkan dapat sampai 250cm dan dapat mencapai tinggi hingga 50 meter dengan tinggi bebas cabang sekitar 20 meter. Kayu gubalnya berwarna agak kekuningan dengan ketebalan hingga 4-5 cm. Batas antara kayu gubal dan terasnya cukup jelas. Bagian terasnya berwarna kelabu cokelat atau kuning cokelat hingga cokelat merah cerah atau hampir hitam. Tekstur kayu dari Merbau sendiri ialah kasar dan merata, dengan arah serat yang kebanyakan lurus.
4. Angsana (Pterocarpus indicus)
Termasuk dalam Fabaceae yang bergetah merah. Pohon ini ditanam di lokasi Kebun Raya Bogor pada tahun 1844, sehingga sudah berusia 167 tahun. Sisi daunnya bergelombang dan daun berwarna hijau pudar. Banyak dimanfaatkan sebagai pohon peneduh dan memiliki root grapting atau akar yang menyambung diantara dua pohon.
5. Pohon rindang berbau mawar
6. Sindur (Sindora siamensis)
Jenis pohon dari famili Fabaceae ini berbentuk pohon yang besar dan tinggi mencapai 30 meter lebih. Di permukaan batang terdapat kulit yang menyerupai gelang-gelangan. Buahnya bulat dan gepeng dengan kulit buah kasar dan berduri.
7. Trembesi (Samanea saman)
Pohon ini sering disebut juga Ki Hujan, memiliki tajuk yang bagus. Sangat bagus untuk pohon penghijauan karena kemampuan dalam menyerap CO2 nya tinggi. Namun jenis pohon ini merupakan spesies asing dan berpotensi menjadi infasif.
8. Kedawung (Parkia timoriana)
Berbentuk pohon besar dengan tinggi mencapai 30m lebih. Termasuk ke dalam jenis polong-polongan dan memiliki banir menyebar. Jenis pohon ini secara alami tumbuh di Taman Nasional Meru Betiri. Populasinya sangat sedikit karena buahnya banyak dimakan primata dan dipanen manusia untuk dijadikan kopi sebagai obat herbal, sehingga sulit untuk melakukan perkembangbiakan secara alami.
9. Pohon Saga (Adenanthera pavonina)
Ada dua jenis yaitu saga pohon dan saga rambat. Saga pohon umum dipakai sebagai pohon peneduh di jalan-jalan besar. Tumbuhan ini juga mudah ditemui di pantai. Daunnya menyirip ganda, seperti kebanyakan anggota suku polong-polongan lainnya.
10. Pohon Ampupu (Eucalyptus alba)
Dalam pengamatan, dijumpai keunikan dari pohon ini yaitu batang nya yang terpilin. Dan dilihat dari segi daunnya yang ternyata mengandung minyak.
11. Pandan liar (Pandanus affinis)
Habitat asli jenis ini adalah di hutan pantai. Berbentuk perdu dengan pinggir daun banyak terdapat duri tajam. Daun berwarna hijau tua, berukuran sangat besar dan tebal yang berbentuk lanset.
12. Buah merah (Pandanus conoides)
Ditemukan dalam satu lokasi dengan Pandan Liar. Jenis tumbuhan ini termasuk dalam jenis yang hampir langka dan hanya dapat ditemukan dalam lokasi tertentu saja. Banyak dimanfaatkan oleh manusia sebagai obat HIV dan kanker.
13. Gayam (Inocarpus fagiforus)
Batang berbentuk simpodial. Buahnya dapat dimakan setelah diramu terlebih dahulu.
14. Keben (Barringtonia asiatica)
Buah dari jenis pohon ini tergolong buah yang beracun.
15. Pedada (Sonneratia caseolaris)
Daunnya agak tebal dan kaku, namun pertulangan daun tidak terlihat jelas. Pangkal daun berwarna merah muda dan mudah rontok.
16. Benuang kaki
Buah siap dipanen setelah masak fisiologis yang ditandai dengan warna buah hijau tua sampai kehitama-hitaman. Buah akan didapatkan dalam jumlah yang banyak dan berkualitas baik jika dipetik ketika masih diatas pohon. Secara alami buah yang telah masak terbuka ketika masih di atas pohon dan benih yang berukuran kecil akan jatuh berterbangan. Benih juga dapat diambil dari buah utuh yang jatuh dilantai hutan. Buah berupa untaian.
17. Sempur (Dillenia sp.)
Tumbuh sampai 15 metera, dengan kanopi lebar dari daun hijau tua lonjong sepanjang 14 inci dan urat daun sebanyak 25 - 50 buah, bunga berwarna putih, harum, cerah dengan lebah 8 inci, benang sari berwarna kuning, kelopak bunga sebanyak 15-20, dengan buah yang pecah sewaktu matang dan berbentuk bulat berdiameter 4 inci, tiap kelopak memiliki 5 atau lebih biji hitam dalam serbuk tak berwarna. Buah yang sedang berkembang mirip dengan apel hijau. Buah yang matang, berukuran hingga 6 inci, dapat dimakan dan demikian juga dengan daun bunga dari buah yang matang. Juga digunakan dalam kari dan agar-agar.
18. Soka (Ixora sp.)
Pohon berukuran tinggi mencapai 2 m atau lebih, berdaun besar, warna bunga oranye. Namun zaman sekarang umumnya pohon ini dijual dalam bentuk mini untuk ditanam di pot atau sebagai border taman, dengan warna variatif. Pohon soka dapat berbunga dalam jangka waktu tertentu.
19. Bisbul (Diospyros celebica)
Bisbul adalah nama sejenis buah sekaligus tumbuhan penghasilnya. Tumbuhan ini berkerabat dengan kesemek dan kayu hitam. Bisbul merupakan pohon yang sedang tingginya, 10-30 m, meskipun umumnya hanya sekitar 15 m atau kurang. Berbatang lurus, dengan pepagan berwarna hitam atau kehitaman, diameter hingga 50 cm atau lebih di pangkal batang, bercabang kurang lebih mendatar dan bertingkat, dengan tajuk keseluruhan berbentuk kerucut yang lebat dan rapat daun-daunnya sehingga gelap di bagian dalamnya. Daun-daun tersusun berseling, berbentuk lonjong, 2,5-12 × 8-30 cm, bertepi rata, dengan pangkal membundar danujung meruncing, bertangkai sekitar 1,7 cm. Sisi atas daun hijau tua, mengkilap, seperti kulit; sisi bawah berbulu halus, keperakan. Daun muda hijau muda sampai merah jambu. Buah buni bulat atau bulat gepeng, berbulu halus seperti beludru, coklat kemerahan kemudian merah terang dan lalu agak kusam apabila masak, dengan “topi” dari kelopak bunga yang tidak rontok. Daging buah berwarna keputihan, agak keras dan padat, agak kering, manis agak sepat dan berbau harum; ditutupi kulit buah yang tipis berbulu.
20. Salam (Syzygium polyanthum)
Pohon berukuran sedang, mencapai tinggi 30 m dan gemang 60 cm. Pepagan (kulit batang) berwarna coklat abu-abu, memecah atau bersisik. Daun tunggal terletak berhadapan, dengan tangkai hingga 12 mm. Helai daun berbentuk jorong-lonjong, jorong sempit atau lanset, 5-16 x 2,5-7 cm, gundul, dengan 6-11 urat daun sekunder, dan sejalur urat daun intramarginal nampak jelas dekat tepi helaian, berbintik kelenjar minyak yang sangat halus. Karangan bunga berupa malai dengan banyak kuntum bunga, 2-8 cm, muncul di bawah daun atau kadang-kadang pada ketiak. Bunga kecil-kecil, duduk, berbau harum, berbilangan-4; kelopak seperti mangkuk, panjangnya sekitar 4 mm; mahkota lepas-lepas, putih, benang sari banyak, terkumpul dalam 4 kelompok, lekas rontok; piringan tengah agak persegi, jingga kekuningan. Buah buni membulat atau agak tertekan, 12 mm, bermahkota keping kelopak, berwarna merah sampai ungu kehitaman apabila masak.
21. Palem (Acoelorrhaphe wrightii)
Daun majemuk dan tersusun menyirip tunggal yang khas dan menjadi tanda pengenal yang paling mudah. Pada beberapa kelompok ditumbuhi duri. Tangkai daun dilengkapi pelepah daun yang membungkus batang. Batangnya beruas-ruas dan tidak memiliki kambium sejati. Bila diiris melintang, batangnya memperlihatkan saluran pembuluh yang menyebar di bagian dalamnya. Luka batang ini cenderung tidak tertutup kembali, justru malah membesar atau malah membusuk.
22. Kelapa (Cocos nucifera)
Satu jenis tumbuhan dari suku aren-arenan atau Arecaceae dan adalah anggota tunggal dalam marga Cocos. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serba guna, khususnya bagi masyarakat pesisir. Pohon dengan batang tunggal atau kadang-kadang bercabang. Akar serabut, tebal dan berkayu, berkerumun membentuk bonggol, adaptif pada lahan berpasir pantai. Batang beruas-ruas namun bila sudah tua tidak terlalu tampak, khas tipe monokotil dengan pembuluh menyebar (tidak konsentrik), berkayu. Kayunya kurang baik digunakan untuk bangunan. Daun tersusun secara majemuk, menyirip sejajar tunggal, pelepah pada ibu tangkai daun pendek, duduk pada batang, warna daun hijau kekuningan. Bunga tersusun majemuk pada rangkaian yang dilindungi oleh bractea; terdapat bunga jantan dan betina, berumah satu, bunga betina terletak di pangkal karangan, sedangkan bunga jantan di bagian yang jauh dari pangkal. Buah besar, diameter 10 cm sampai 20 cm atau bahkan lebih, berwarna kuning, hijau, atau coklat; buah tersusun dari mesokarp berupa serat yang berlignin, disebut sabut, melindungi bagian endokarp yang keras (disebut batok).
23. Lontar (Borassus flabellifer)
Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm.
24. Kayu Besi/Ulin (Eusideroxylon zwageri)
Termasuk famili Lauraceae yang berdaun tunggal dan berbentuk oval. Tata daun alternate dengan pangkal daun yang terdapat bulu. Daun berukuran besar-besar, tangkai daun berwarna coklat dan daun muda berwarna merah.
25. Ki Putri (Podocarpus neriifolious)
Berasal dari famili Podocarpaceae yang berdaun tunggal dan tata daun alternate. Ukuran daun tidak terlalu besar, agak tebal, dan berwarna sedikit terang.
26. Araucaria (Araucaria cunninghamii)
Famili Araucariaceae, yang berdaun kecil-kecil dan runcing di ujungnya. Di sepanjang tangkai dipenuhi daun yang kaku dan subulatus. Permukaan batang daun mengelupas panjang.
27. Melinjo (Gnetum gnemon)
Ukuran batang tidak terlalu tinggi. Jenis ini merupakan evolusi dari gymnospermae ke angiospermae. Buah dan daun muda jenis pohon ini dapat dimakan oleh manusia.
28. Tusam (Pinus caribaea)
Berasal dari suku Pinaceae, daun tunggal berbentuk jarum dan tata daun verticillate. Permukaan atas dan bawah daun terasa kasar. Daun kaku dan dalam 1 tangkai rata-rata terdapat 2 atau 3 helai daun saja.
29. Agathis (Agathis boornensis)
Famili Araucariaceae ini memiliki getah yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Permukaan kulit batang mengelupas dengan ukuran yang besar. Daun tunggal yang berwarna gelap, kaku, dan ukurannya tidak terlalu besar.
30. Kopi (Coffea canephore pierre)
Termasuk tumbuhan perdu, terdapat banyak percabangannya, daun berukuran besar dan bergelombang. Buah kopi bulat kecil-kecil dan mengelompok. Dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan baku pembuatan kopi.
31. Pala-palaan (Horsfieldia iryagedhi)
Termasuk dalam suku Myristicaceae yang bergetah merah.
32. Ficus kerbau (Ficus elastica)
Tumbuhan pencekik yang telah menguasai inang nya.
33. Matoa (Pometia pinnata)
Bagian dari suku Sapindaceae. Komposisi daun majemuk ganda 1 yang berbentuk oblongus. Tata daun alternate dengan anak daun opposite. Ujung daun berwarna merah, semakin ke pucuk ukuran daun semakin besar. Daun paling awal berbentuk telinga. Buahnya dapat dikonsumsi oleh manusia.
34. Rambutan hutan (Nephelium lappaceum)
Famili Sapindaceae. Perbedaan warna daun sangat jelas yaitu permukaan atas daun berwarna hijau tua sedangkan permukaan bawah daun berwarna keperakan. Ranting berwarna coklat.
35. Kesambi (Schleichera oleosa)
Dalam pengamatan, ukuran Kesambi masih dalam bentuk tumbuhan kecil dan rendah. Daunnya rimbuun dan berwarna hijau tua mengkilat. Tumbuhan ini adalah inang dari kutu Lak, sehingga dikembangkan di Perhutani.
36. Karet (Hevea brasiliensis)
Suku Euphorbiaceae dengan komposisi daun majemuk dan pertulangan daunnya menjari. Diantara pertulangan daun terdapat garis-garis yang menyerupai tangga. Pehon ini mengandung getah yang disadap manusia untuk diolah.
37. Litchi (Litchi chinensis)
Merupakan pohon tertua di Kebun Raya Bogor, yang ditanam pada tahun 1823. Berbentuk batang yang berdiameter sangat besar.
38. Bintaro (Cerbera odollam)
Bintaro umumnya mempunyai tinggi 4-6 meter meskipun terkadang mampu mencapai 12 m. Dannya berwarna hijau tua mengkilat berbentuk bulat telur. Bunga Bintaro berbau harum, terdiri atas lima petal dengan mahkota berbentuk terompet yang pangkalnya berwarna merah muda. Buah bintaro berbentuk bulat telur dengan panjang sekitar 5-10 cm. Ketika masih muda berwarna hijau pucat dan berubah menjadi merah cerah saat masak. Habitat aslinya adalah daerah pantai dan hutan mangrove (bakau). Namun kini Bintaro banyak ditanam sebagai pohon penghijauan penyerap karbondioksida (CO2).
39. Jelutung (Dyera costulata)
Spesies pohon dari subfamilia oleander. Pohon ini dapat tumbuh hingga 60 meter dengan diameter sebesar 2 meter. Pohon ini tumbuh di semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sumatra dan bagian selatan Thailand. Getah jelutung berfungsi sebagai bahan baku pembuatan permen karet yang dimulai pada tahun 1920-an dan pada tahun 1940-an getah jelutung telah menggeser posisi lateks dari pohon Achras sapota, yaitu pohon penghasil bahan baku asli permen karet yang berasal dari Amerika Tengah. Getah jelutung juga digunakan dalam industri perekat, laka, lanolic, vernis, ban, water proofing dan cat serta sebagai bahan isolator dan barang kerajinan.
40. Pulai (Alstonia scholaris)
Suku Apocynaceae yang berbatang simpodial, dengan tajuk bertingkat. Warna daun muda dan daun tua sangat berbeda, daun halus tidak kaku.
41. Sawo duren (Chrysophyllum cainito)
Berasal dari suku Sapotaceae dengan komposisi daun tunggal. Memiliki ciri khas permukaan bawah daun berwarna keemasan dan pertulangan daun menonjol. Buahnya berwarna hijau dan dapat dimakan oleh manusia.
42. Nyatoh (Palaquium rostratum)
Tinggi mencapai 40 m, panjang batang bebas cabang 10 – 30 m, diameter dapat mencapai 100 cm, berbanir yang tingginya sekitar 3 m. Bentuk batang lurus dan silindris, kulit luar bewarna coklat, kelabu-coklat merah-coklat atau merah tua sampai agak hitam. Kayu teras berwarna merah muda, merah kecoklat-coklatan/coklat ungu. Kayu gubal berwarna lebih muda. Tumbuh di tanah berawa dan sebagian pada tanah kering, dengan jenis tanah liat atau tanah berpasir, didaerah banyak hujan pada ketinggian 20-500 m dari permukaan laut.
43. Sawo kecik (Manilkara kauki)
Suku Sapotaceae dengan komposisi daun tunggal dan tata daun alternate distichous. Daun kaku dan tebal, pertulangan daun tidak jelas, permukaan atas daun berwarna hijau tua dan mengkilat, sedangkan permukaan bawah berwarna hijau buram dan kasar.
44. Tanjung (Mimusops elengi)
Bentuk daun hampir sama dengan angsan, dengan sisi daun bergelombang. Pohon berukuran sedang, tumbuh hingga ketinggian 15 m. Daun-daun tunggal, tersebar, bertangkai panjang; daun yang termuda berambut coklat, yang segera gugur. Helaian daun bundar telur hingga melonjong, panjang 9–16 cm, seperti jangat, bertepi rata namun menggelombang. Bunga berkelamin dua, sendiri atau berdua menggantung di ketiak daun, berbilangan-8, berbau enak semerbak. Kelopak dalam dua karangan, bertaju empat-empat; mahkota dengan tabung lebar dan pendek, dalam dua karangan, 8 dan 16, yang terakhir adalah alat tambahan serupa mahkota, putih kekuning-kuningan.
45. Mandarahan (Knema laurina)
Suku Myristicaceae yang bergetah merah, kayu dengan batang terpilin. Komposisi daun tunggal dengan permukaan atas hijau gelap mengkilap dan permukaan bawah agak berbulu sehingga agak kasar. Terdapat bulu-bulu halus di ranting pohon, ujung daun meruncing, dan pertulangan bawah daun menonjol.
46. Fatua (Myristica fatua)
Termasuk juga dalam suku Myristicaceae yang bergetah merah. Batang berwarna kuning kehijauan. Daun berukuran besar, dan permukaan bawah daun keemasan.
47. Coklat (Theobroma cacao)
Berbentuk perdu, daun berukuran besar dengan tata daun alternate. Buah dari pohon ini mucul dari batang, pada pangkal daun terjadi pembengkakan tangkai.
48. Durian (Durio zibethinus)
Suku Bombacaceae dengan komposisi daun tunggal dan memiliki marginal vein. Permukaan bawah daun berwarna keemasan, sedangkan tangkai dan batang berwarna coklat keemasan. Batang berukuran besar dan tinggu, memiliki buat yang berduri dan dapat banyak disukai masyarakat.
49. Kepuh (Sterculia foetida)
Famili Sterculiaceae dengan batang monopodial dan tajuk membulat. Komposisi daun menjari ganjil.
50. Bayur (Pterospermum diversifolium)
Famili Sterculiaceae yang berkomposisi daun tunggal dan berbentuk ovatus asimetris. Pertulangan daun emas kecoklatan, permukaan bawah daun berwarna emas berbulu, begitu juga pada rantingnya. Batang berukuran besar dan tinggi, memiliki ciri khas yaitu permukaan bawah daunnya seperti memiliki pelapis semu yang dapat dikelupas.
51. Pohon cola (Cola acuminata)
Berbatang besar dan tinggi. Biji nya dapat difermentasikan untuk menjadi bahan pembuatan minuman cola.
52. Manggis-manggisan (Garcinia sizygiifolia)
53. Mamea (Mammea siamensis)
54. Ficus (Ficus superba)
Penampang batang nya sangat besar dan tinggi sekali.
55. Bouea oppositifolia
56. Rengas (Gluta wallichea)
Pohon ini harus diwaspadai karena mengandung getah yang beracun sehingga berbahaya bagi manusia maupun hewan yang menyentuhnya.
57. Keruing (Dipterocarpus turbinatus)
Termasuk dalam pohon berstrata A, berukuran besar dan tinggi dapat mencapai 40 meter. Kulit batang nya mengelupas, daun bersayap 2-5 dan mamiliki buah samara atau buah keras.
58. Meranti merah (Shore pinanga)
Suku Dipterocarpaceae yang memiliki daun penumpu Intrapetiolaris stipule. Ranting daun agak berbulu, permukaan atas daun berbintil putih, daun muda berwarna merah. Daun menjuntai panjang.
59. Resak (Vatica pauciflora)
Suku Dipterocarpaceae, memiliki daun penumpu Intrapetiolaris stipule. Permukaan daun memiliki bintil yang teratur, penampangnya nyaris sama dengan Shorea pinanga, namun tepi daun rata.
60. Gaharu
Termasuk dalam suku Thymeliaceae yang menjadi penghasil minyak untuk parfum dan minyak pedupaan jika terinfeksi jamur. Tepi daun bergelombang. Pohon berukuran kecil, daun berbentuk oblongus.
61. Kamper tanduk (Dryobalanops aromatica)
Suku Dipterocarpaceae, bentuk daun lanset. Memiliki daun penumpu Intrapetiolaris stipule. Tata daun alternate, dengan ujung daun meruncing. Daun beraroma kamfer bila diremas. Pertulangan daun terlihat rapat.
62. Meranti kuning (Shorea leprosula)
Suku Dipterocarpaceae, komposisi daun tunggal, tata daun alternate, dan bentuk daun ovatus. Memiliki daun penumpu Intrapetiolaris stipule. Permukaan bawah daun berwarna hijau kekuningan, halus dan mengkilap. Tepi daun bergelombang, ujung daun meruncing, dan tangkai berwarna coklat. Pohon ini adalah salah satu dari “Pohon Jodoh” yang ada di Kebun Raya Bogor, kini sudah berukuran sangat besar.
63. Ficus (Ficus albipila)
Pohon ini adalah pasangan dari pohon Shorea leprosula yang dijadikan sebagai pasangan “Pohon Jodoh” di Kebun Raya Bogor. Ukuran pohon ini sudah sangat besar dan menjulang tinggi.
64. Kayu manis (Cinnamomum burmanni)
Famili Lauraceae dengan komposisi daun tunggal. Tata daun alternate dengan bentuk oblongus. Daun memiliki aroma, permukaan daunnya pun khaas, batang berwarna hijau, ujung dan pangkal daun runcing.
65. Arthocarpus sp.
Memiliki keunikan dalam bentuk daun yang berbeda-beda. Ada yang berbentuk oblongus, tetapi ada juga yang berbentuk menjari.
66. Cemara aru (Casuarina sumatrana)
Suku Casuarinaceae dengan komposisi daun majemuk ganda 2, daun berbentuk sisik dengan permukaan yang halus. Daun berhelai yang bergelombang, dalam 1 tangkai terdapat banyak helaian daun.
67. Kenari (Sandapsus cusuaria)
Batang berukuran besar dan tinggi. Pohon kenari memiliki buah yang keras, sehingga biasa disebut dengan biji kenari. Buah kenari ini biasa dijadikan makanan oleh tupai.
68. Burahol (Stelecocarpus burahol)
Ukuran batang pohon yang perdu, banyak terdapat buah yang muncul dari batang. Buah tumbuh berkelompok dan berbentuk bulat berwarna coklat muda.
KESIMPULAN
Dari kuliah lapang ini dapat disimpulkan, begitu banyak jenis-jenis pohon yang terdapat di muka bumi ini.Dari begitu banyak jenis kayu tersebut pasti ada pembedanya satu sama lainnya. Begitupun manfaatnya untuk manusia maupun makhluk hidup lainnya. Dengan menguasai ilmu dendrologi maka kita akan lebih bisa memanfaatkan kayu tersebut sesuai dengan potensi yang kayu miliki masing- masing. Selain itu dengan ilmu dendrologi juga kita bisa menanam dan merawat pohon-pohon tersebut sesuai dengan sifat-sifatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Rahawarin , Yohanes, Y (2005): “Komposisi Vegetasi Mangrove di Muara Sungai Siganoi Sorong Selatan-Papua”. Biota jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati , 05 (3) : 134-140.
Soerianegara I, Indrawan A. 2005. Ekologi Hutan Indonesia. Bogor : Laboratorium Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
LAPORAN KULIAH LAPANG DENDROLOGI
KEBUN RAYA BOGOR
Oleh:
Rifqi Rahmat Hidayatullah
NRP
E34100090
Asisten :
Muhaemin E14080075
Umar A E44080084
Erekso H E44080017
Ari I E44080028
Dosen :
Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc.F

LABORATORIUM EKOLOGI HUTAN
DEPARTEMEN SILVIKULTUR
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Lampiran:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar